Analisis Co-Firing Kulit Kayu terhadap Emisi dan SFC PLTU Balikpapan
DOI:
https://doi.org/10.58466/5mc5pe71Kata Kunci:
co-firing, emisi, kulit kayu, PLTU, SFC, SulfurAbstrak
Co-firing merupakan pendekatan praktis untuk mengurangi ketergantungan batubara dan memperbaiki kinerja lingkungan pada PLTU eksisting. Artikel ini mengevaluasi co-firing kulit kayu 3% pada Unit 2 PLTU Teluk Balikpapan 2 x 110 MW dengan isba pada emisi, specific fuel consumption (SFC), dan parameter operasi utama. Penelitian membandingkan operasi baseline menggunakan 100% batubara dengan operasi menggunakan campuran 97% batubara dan 3% kulit kayu. Karakteristik bahan bakar, data operasi boiler, pengamatan bottom ash, inspeksi visual stack, perhitungan SFC, dan pengujian emisi gas buang dianalisis. Kulit kayu memiliki kandungan sulfur lebih rendah dibandingkan batubara, yaitu 0,13% isbanding 0,59%, walaupun nilai kalor kulit kayu lebih rendah. Hasil pengujian menunjukkan emisi SO2 turun dari 246,7 mg/Nm3 menjadi 190 mg/Nm3 atau setara penurunan 22,98%, sedangkan Nox meningkat dari 285 mg/Nm3 menjadi 307 mg/Nm3 tetapi masih di bawah baku mutu 550 mg/Nm3. SFC berubah kecil dari 0,706 kg/kWh menjadi 0,707 kg/kWh. Bed temperature turun dari 927,16 degC menjadi 924,18 degC dan FEGT turun dari 1013,78 degC menjadi 1011,24 degC, sehingga operasi boiler tetap stabil. Pengujian tidak menunjukkan black smoke, carry over, maupun indikasi aglomerasi signifikan. Dengan demikian, co-firing kulit kayu 3% layak secara teknis untuk menurunkan emisi dengan pengaruh terbatas terhadap SFC
Unduhan
Referensi
[1] Tillman DA. Final Report: EPRI-USDOE Cooperative Agreement Co-firing Biomass with Coal. Clinton, New Jersey; 2001.
[2] Burdett N. The Development of the 500 MW Co-firing Facility at Drax Power Station. North Yorkshire; 2010.
[3] Aziz M, Budianto D, Oda T. Computational fluid dynamic analysis of co-firing of biomass and coal. Energies. 2016.
[4] Truong AH. Feasibility and Sustainability of Co-firing Biomass in Coal Power Plants in Vietnam. Vietnam; 2015.
[5] Prabowo G. Laporan Kajian Co-firing Bahan Bakar Batubara dengan Biomassa pada PLTU Paiton 1-2. Surabaya: ITS Tekno Sains; 2019.
[6] Sugiyanto, Abdillah M, Nugroho A. Pengujian dan Simulasi Co-firing Bahan Bakar Batubara dengan Biomassa pada PLTU Paiton 2x400 MW. Jurnal EBTKE ESDM; 2019.
[7] Operation Manual of Steam Turbine 2x110 MW Coal-Fired Power Plant in Balikpapan of Indonesia.
[8] Sadjak M, Kmiec M, Micek B, Hrabak J. Determination of the optimal ratio of coal to biomass in the co-firing process. International Journal of Environmental Science and Technology. 2019;16:2989-3000.
[9] Retschitzegger S. High Temperature Corrosion in Biomass-Fired Fixed Bed Boilers. Graz University of Technology; 2017.
[10] Pother-Simon J. High Temperature Corrosion of Superheaters in Biomass and Waste Fired Boilers. Chalmers University of Technology; 2019.
[11] Basel Convention Regional Centre for South East Asia. Final Report Mercury Emissions From Coal Fired Power Plants in Indonesia. Jakarta; 2017.
[12] Pintana P, Tippayawong N. Predicting ash deposit tendency in thermal utilization of biomass. Engineering Journal. 2016;20(5).
[13] Operation Manual of Coal Handling Facility 2x110 MW Coal-Fired Power Plant in Balikpapan of Indonesia.
[14] Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.15/MENLHK/SETJEN/KUM.1/4/2019 tentang Baku Mutu Emisi Pembangkit Listrik Tenaga Termal.
[15] Peraturan Direksi PT PLN (Persero) No. 0004.P/DIR/2022 tentang Pedoman Pelaksanaan Co-firing.
[16] Putra TS, Prabowo E, Ramadani F. Pengaruh Overhaul Terhadap Kinerja High Pressure Heater Unit 3 PLTU Banten Lontar. JTM: JURNAL TEKNIK MESIN. 2026 Feb 1;2(1):10-5.







